Love The Devil #13


Judul     : Love The Devil #13

Author : Hyemi

Cast      : Luhan, Seohyun

Genre   : Romance, sad

 

****

Seorang dokter bername tag Lee Jongsuk  keluar dari ruangan operasi. Ia menghampiri Seohyun yang terlihat putus asa.

“Bagaimana keadaanya dokter?” Seohyun langsung bertanya begitu dokter yang menangani Luhan keluar dari ruangan operasi.

“Apakah anda yang bernama Seohyun?” tanya dokter itu.

“Nde… saya Seohyun, bagaimana dengan pasiennya dokter?”

“ah.. Luhanssi berhasil melewati masa kritisnya, akan tetapi ia masih belum boleh terlalu banyak bergerak karena lukanya yang belum mengering, ia sepertinya lebih menghawatirkanmu Seohyunssi, kau boleh menjenguknya, kalau begitu saya permisi.” Setelah memberitahu seohyun keadaan laki-laki itu, dokter itu langsung pergi meninggalkan Seohyun.

Seohyun berjalan dan membuka pintu ruangan Luhan dirawat. Ia berjalan pelan kearah Luhan yang masih terbaring lemah. Laki-laki itu tidur? Pikirnya ketika melihat matanya yang terpejam.  Ia berdiri tepat disamping Luhan. Tanganya mengusap pelipis Luhan dengan Lembut lalu beralih menggenggam tangannya. Sebutir air mata menetes di pipi cubinya. Seohyun menutup matanya. “Mianhae,” gumamnya pelan.

Saat seohyun masih terisak pelan. Seohyun merasakan gengaman tangannya mengerat. Ia membuka matanya dan melihat Luhan yang menatapnya dengan sendu.

“Uljima hyun….” kata Luhan dengan mengusap pipi seohyun dengan sebelah tangannya dengan pelan. “Kau baik-baik saja?”

Seohyun menatapnya dengan sedih. Ia mencoba menghapus air matanya dengan punggung tangannya dan kembali bersikap biasa. “Harusnya aku yang menanyakan itu,” ia tidak peduli dangan tangannya yang masih di gengaman Luhan.

Luhan tersenyum tipis. Walaupun masih terasa nyeri di bekas lukanya Luhan meyakinkan Seohyun. “Gwenchana… aku baik-baik saja, seperti yang kau lihat,”

“Ciih… aku tidak percaya,”

“Terimakasih sudah menghawatirkanku,” kata Luhan dengan senyum yang mengembang di bibirnya membuatnya terlihat semakin mempesona. Tangannya mengusap punggung tangan seohyun yang berada di genggamannya pelan.

Seohyun memalingkan wajahnya. Ia tidak ingin mengakui bahwa ia hampir saja terpesona dengan Luhan lagi. Ia menarik paksa tangannya dari genggaman Luhan.

“Seohyunssi!”

Seohyun menoleh  ke arah pintu saat mendengar seseorang memanggilnya.

“Oh, Jonginssi..”

“Hyung kau sudah bangun?”

Kim Jongin sahabat Luhan berjalan menghampiri Luhan. “Bagaimana Keadaanmu? Aisshh.. kau hampir saja membuatku khawatir”

“Nde.. aku merasa lebih baik,”

“Oh syukurlah, seohyunssi  kau harus mengganti bajumu, aku tadi keluar dan membeli baju ganti untukmu, kuharap kau tidak protes dengan baju yang kupilihkan unatukmu karena aku tidak tahu ukuran bajumu.”

“Nde.. tidak perlu, lagi pula aku akan  segera pulang,”

“Mwo? Kau mau pulang dengan baju di penuhi darah seperti itu? Sudahlah ambil saja,”

“Baiklah…” putusnya dan mengambil paper bag dari tangan Jongin lalu berbalik dan menatap Luhan sebentar. “Aku.. pergi Luhanssi, besok….”  Seohyun menggantungkan ucapanya ragu. “Besok aku…aku akan mengunjungimu..” Setelah mengucapkannya Seohyun langsung meninggalkan Luhan yang masih menatap kepergian seohyundengan tersenyum tipis.

 

*****

Seohyun berjalan menelusuri lorong rumah sakit, kakinya berhenti di depan sebuah ruangan. Seohyun membuka pintu ruangan itulalu berjalan pelan masuk ke ruangan itu. Ia melihat tubuh seseorang yang terbaring kaku di atas tempat tidur dengan darah yang masih membekas di kain putih yang menutupi sekujur tubuhnya. Seohyun membuka kain penutup itu. Ia menatap sendu mayat Sehun. “kenapa kau bertindak bodoh sehun ah,,,” Seohyun membelai wajah Sehun pelan. “ jika saja kau tidak sebodoh ini, mungkin aku akan mempertimbangkannya untukmu sehun ah….semoga kau tenang disana, sampai jumpa” air matanya menetes, ia menatap nanar wajah Sehun lalu ia menutup kembali wajah sehun dengan kain putih tadi. Ia berbalik dan meninggalkan ruangan itu dengan terisak pelan.

Setelah mengganti pakaiannya dengan pakaian yang di berikan Kim Jongin tadi Seohyun langsung pergi meninggalkan rumah sakit. Ia duduk di halte depan menunggu bus datang. Tiba-tiba ponselnya berdering. Tanpa melihat layar poneslnya Seohyun langsung menggeser flap ponselnya.

“Yeoboseo?”

“Hyun….?”

“Oh, bibi Lee,…” belum selesai Seohyun berbicara. Bibi Lee sudah memotongnya.

“bagaimana keadaanmu hyunie?” suara Bibi Lee terdengar cemas.

“Aku baik-baik saja, bibi dimana sekarang? Jihyun… jihyun bagaimana dengan dia sekarang?”

“Dia sudah tidur sekarang, mungkin besok jihyunie keadannya akan membaik… Hyun bolehkan bibi meminta sesuatu?”

“Apa itu?”

“Bisakaha bibi minta kamu berhenti untuk membalaskan dendamu dengannya… kurasa ini semua sudah cukup Hyun…”

Seohyun terdiam mendengarkan bibi Lee beribicara. “Berhenti?haruskah?”. Ia bingung, rasanya hal itu akan sangat sulit dilakukannya. Mengingat hal kejadian yang meninmpa kaka nya dulu. Tapi bukan itu yang membuatnya tidak ingin berhenti, ada hal lain yang membuatnya ragu. Seperti dirinya sudah terikat dengan laki-laki itu, rasanya ia tidak ingin jauh-jauh dari laki-laki itu.

“Hyun?”

“Oh,nde” bibi Lee menyadarkan lamunannya.

“Kau mendengarku kan? Bibi hanya tidak ingin kejadian ini terulang lagi hyun,”

“Aku tahu bibi,”

“Bagaimana?”

“Aku akan memikirkannya,”

“Secepatnya hyun,” kata bibi Lee lalu menghembuskan napasnya pelan.

“Arraseo,” Seohyun menuup panggilannya dengan bibi Lee lalu menghembuskan napasnya lelah. Ia mengusapkan wajahnya kasar.

 

*****

Sesuai janjinya, Seohyun mengunjungi laki-laki itu. Luhan masih tidur saat Seohyun masuk ke dalam ruang rawatnya. Ia melihat kesekeliling mencari teman laki-laki itu, tapi ia tidak menemnukannya! Mungkin dia sudah pulang, pikirnya. Lalu ia berjalan ke arah jendela ruangan itu dan membuka tirai putih yang menutupi kaca besar jendela itu.

Luhan mengerjapkan matanya, sebelah tanganya berusaha menutupi metanya untuk menghalang sinar matahari yang masuk dari celah jendela ruang rawatnya. Ia menggerutu pelan dan masih memejamkan matanya. Terlihat imut pikir Seohyun.

Seohyun tersenyum tipis lalu berjalan pelan mendekati laki-laki itu. Ia memandangi laki-laki itu yang masih terlelap walau sepertinya laki-laki itu tidak benar-benar terlelap. Ia mengganggu tidurnya!. Baru kali ini ia melihat sisi yang berbeda pada Luhan. Laki-laki itu terlihat polos dan terlihat  jauh dari image iblisnya.

Luhan akhirnya membuka matanya dan menatap polos ke arah Seohyun yang menatapnya. “Oh, Joo..”

Seohyun kembali merubah raut wajahnya menjadi dingin dan berpura-pura acuh. “Aku hanya ingin menepati janjiku,”

Luhan tersenyum geli. Ia tahu Seohyunya hanya berpura-pura acuh. “Tidak apa, aku senang kau menepati janjimu,”

“Aku membawakanmu sup gingseng,”

“Gomawo, sudah mengkhawatirkan aku” kata Luhan lalu tersenyum senang.

“Mwo? Aku tidak mengkhawatirkan….”

Luhan langsung menyela ucapan Seohyun. “Arraseo,”

Seohyun menghembuskan napasnya pelan, mencoba terlihat biasa.

“Baiklah, aku harus pulang”

Luhan langsung menegakkan tubuhnya dan memegang tangan Seohyun ketika wanita itu hendak berbalik. “tetaplah disini, kumohon hyun” ucap Luhan dengan raut wajah memohon.

Seohyun menatapnya, walaupun tatapannya terlihat datar tapi pikirannya kalut. Rasanya ia memang ingin berada di dekat Luhan, tapi sedikit rasa gengsinya yang membuatnya seperti ini. “Baiklah, hanya 30 menit” putusnya.

“Nde,.. sekarang kau harus menyuapiku…”

“Mwo?”

“kumohon… akhir-akhir ini nafsu makanku sedang menurun, mungkin kalau kau yang menyuapiku nafsu makanku akan bertambah” ucapnya dengan tersenyum lebar.

Seohyun menurutinya lalu ia meraih semangkuk sup gingseng yang ada di meja sampingnya. Ia mulai menyuapi sup gingseng ke mulut Luhan.

Luhan menerima suapan pertama dengan senang. “Kau tau hyun, hari ini aku sangat senang,” katanya di sela-sela makannya.

Seohyun tidak menghiraukannya dan masih tetap menyuapi laki-laki itu. Hingga suapan terakhir seohyun masih tetap diam.

“Rasanya suatu saat nanti aku tidak sanggup jika kau meninggalkanku hyun, jika waktunya tiba,” kata Luhan setelah suapan terakhir dan menatap nanar ke arah Seohyun. Tangan kanannya terangkat membelai pipi Seohyun yang masih diam menatapnya dengan pelan.

Seohyun mencoba menjaga raut wajahnya agar tetap biasa. Ia menelan ludahnya kasar untuk menahan air matanya. Ia tidak ingin terlihat sedih di depan laki-laki itu.

“Aku datang kesini untuk mengatakan sesuatu,”

“Apa?”

“Setelah upacara pemakaman Sehun, aku …. aku dan jihyun akan pergi ke London…”

Luhan langsung terdiam dan menatap  tajam Seohyun. Tangannya berhenti membelai pipi wanita itu lalu menghembuskan napasnya kasar “hah, baru saja aku merasa senang dan kau merusaknya,.. bagaimana bisa..”

“Aku harus pergi…. aku…” belum selesai ia mengatakannya, Luhan memotongnya.

“Aku sudah memohon padamu berkali-kali tapi kau tetap seperti ini… bahkan aku sudah mengubah sikapku..”. selama beberapa minggu, Luhan memang terlihat berbeda dari biasanya. Laki-laki itu menjadi baik dan tidak pernah memaksanya lagi seperti dulu.

Seohyun menundukkan kepalanya. Ia tidak ingin melihat wajah Luhan.

“Aku mencintaimu hyun,.. sangat mencintaimu hyun, kau tahu itu bukan..?”

“aku tahu, aku…. aku tidak bisa Lu,” Seohyun menggeleng kepalanya pelan. Tubuhnya mulai bergetar menahan isakannya. Air matanya perlahan menetes.

Luhan masih menatapnya. Seohyun tidak tahu jika Luhan mencoba menahan air matanya. “Bodoh,”  tangannya meraih wajah Seohyun, mendongakkan wajah wanita itu lalu ia  menundukkan kepalanya dan mencium bibir wanita itu pelan, menyampaikan perasaannya melalui ciuman itu. Luhan berharap wanita itu merasakan perasaanya. Di sela-sela ciumannya, air matanya menetes menyatu dengan air mata wanita itu.  Seohyun bisa merasakannya. Dan ia bisa merasakan Seohyun tidak membalas ciumannya, itu membuatnya sedih dan merasa sesak di hatinya.

Setelah ciumannya terlepas, luhan menundukkan kepalnya dan menyandarkan kepalanya di bahu Seohyun.

“Mianhae,” gumam Seohyun pelandan terisak pelan. Ia bisa merasakan punggung Luhan bergetar. Laki-laki itu menangis! Ia sudah melukai perasaan laki-laki itu. Tangan kanannya mengusap pelan punggung Luhan dengan pelan.

Seohyun merasa sangat bersalah. “aku juga mencintaimu”  gumamnya dalam hati dan semakin terisak.

 

“Mianhae….”

 

TBC

Iklan

Attention!


Hellaaaauu readers! :’) #emang ada :v

adakah yg masih inget saya, si author amatiran ini? wkwkwk :’),  #adminya gk tau ff nya ada yg baca apa gk selama hiatus wkwkwk :v

karena terlalu lama hiatus jadi lupa kalau gw punya hutang banyak ff :’), tadinya mau di lanjutin tapi takut gk ada yg baca karena readersnya kabur semua gara” kelamaan hiatus #miris :’)

ok langsung saja ke intinya/? gw cuma minta pendapat kalian tentang ff gw terutama yg Love the devil itu lebih baik dilanjutin apa gk ya, kalau banyak peminatnya gw akan usahain buat lanjutin tuh ff sambil nyuri” waktu kerja sama kuliah wkwkwk :’) atau gw hapus blog ini saja wkwkwkwk :v

Sekian terima luhan :’)

komen juseyo/? pendapat kalian lebih penting dari apapun #lebay wkwkwkwk :v

 

Love The Devil #12 B


Author : Hyemi
Cast : Lu Han , Seohyun
Genre : Romance, Sad

***
Sementara luhan tubunya mematung. Ia merutuki kebodohannya yang tidak bisa berbuat apa-apa.

“Oh Shitt!! apa yg harus aku lakukan.”

“DORR!! ”

Luhan kembali tersadar saat telinganya mendengar suara pistol diluar sana dan sekali lagi ia merutuki kebodohanya saat menyadiri sehun sudah membawa seohyun keluar dari dalam gereja. Dengan terengah-engah ia berlari keluar gereja, nafasnya memburu rahangnya mengeras.
Ia melihat Seohyun tubuhnya yang shock masih didekapan sehun. Dan sehun yang masih melayangkan tembakanya kearah jongin.

Ya , suara tembakan itu jongin yang melakukannya untuk menghambat sehun agar tidak kabur. Anak itu datang tepat waktu.

Dari arah belakang Luhan menendang kaki sehun hingga namja itu terjatuh dan pistol yg digenggamnya terlempar jauh. Luhan menyeringai lalu menerjang tubuh sehun dan memberinya bogeman mentah dengan sangat keras.

Sementara jongin berlari kearah Seohyun untuk menjauhi yeoja itu dari keduanya.

“Seohyun ssi sebaiknya kita pergi dari sini sekarang ! aku yakin Luhan bisa menyelesaikannya.”

Seohyun diam membisu, tatapannya tertuju dimana Luhan masih memukuli wajah sehun tanpa ampun.

“Seohyun ssi ayo sebelum semuanya terlambat .” Jongin terus mencoba menarik tangan Seohyun agar ikut dengannya. Tapi seohyun tetap membisu, Air matanya mengalir tanpa harus ia cegah.

***
Luhan yang saat ini berada diatas tubuh sehun terus melayangkan pukulannya diwajah sehun.

“Bughk bughk bughk… Kau harus mati Oh sehun.”

“Ciih.. tidak akan.”

Dengan tiba-tiba sehun menendang perut Luhan dengan lututnya hingga akhirnya Luhan lengah dan berbalik sehunlah yang meninju wajah luhan tanpa ampun.

“HENTIKAN !! AKU BILANG HENTIKAN.”

Tangan sehun menggantung saat ia coba berikan pukulan pada wajah luhan. Ia palingkan wajahnya ke arah Seohyun yang berdiri tidak jauh darinya.

“Kalian tidak bisakah berhenti berkelahi oh.” ucap Seohyun dengan air mata yang masih mengalir dipipinya.

Luhan mendang sehun keras hingga sehun jatuh tersungkur dan hendak langsung berlari kearah Seohyun. Namun naas belum sampai ia detempat seohyun berdiri tububnya ditarik paksa berbalik. Saat itu juga ia merasakan benda tajam menusuk didalam perutnya. Tubuhnya melemas, darahnya keluar tanpa henti. Dengan sisa tenaganya ia mencabut pisah dari perutnya, seketika tubuhnya ambruk.

Seohyun matanya mebulat sempurna saat melihat Luhan iblisnya jatuh tergeletak dengan darah yang mengalir deras dari perutnya. Ia melihat sehun yang tersenyum puas.
Seohyun langsung berlari kearah Luhan. Memangku tubuh luhan dengan tangannya , tidak peduli dress putihnya yang ternoda akan darah Luhan.

“Luhan ah gwenchana …”
Bodoh seohyun kau benar-benar bodoh. Lihat luhan sedang kesakitan dan menanyakan hal bodoh. Rutuk seohyun dalam hati.

“a.. aku baik-baik saja seohyun ah. uhuks , huks k..kau ti..dak perlu khawatir.” ucap luhan menenangkan seohyun. Ia menyeka darah yang keluar dari mulutnya.

“Lu… ”

Belum sempat seohyun melanjutkan ucapannya, tubuhnya sudah ditarik paksa oleh sehun untuk ikut denganya.

“Seohyun ah kau harus ikut denganku ayo.” ucap sehun lalu menarik paksa seohyun.
“Tidak , kau brengsek sehun ah..” Seohyun terus memberontak dalam dekapan sehun.

Jongin tersadar dari diamnya saat dirinya shock dengan kejadian beberapa menit lalu.
Ia menatap kerah luhan yang berusaha berdiri mengejar sehun yang berlari menyeret seohyun digenggamanya. Lalu ia alihkan pandangannya kearah sehun yang masih mencoba menyeret seohyun. Tatapan berubah tajam, ia arahkan pistolnya ke arah sehun. dan…

“DOORRR!!”

Jongin menurunkan kembali pistolnya. Lalu melihat kearah sehun yang jatuh tergelak tanpa nyawa karena peluru yang bersarang dikepalanya.
Luhan menyeringai puas, ia berhasil menembakkan pelurunya tepat sasaran.
Ya!! Luhan lah pelakunya, ia yang menembak sehun bukan jongin. Tubuhnya seketika melemas, nafasnya tersengal-sengal.

“Luhan…” panggil seohyun cemas disampingnya. “Ku mohon bertahanlah ..”

***
Seohyun menunggu didepan ruang UGD dengan sangat cemas . Air matanya tidak hentinya mengalir dipipinya. Dressnya yang masih berlumuran darah milik luhan tidak ia pedulikan. Keadaanya benar-benar kacau. Oh tuhan.. kumohon selamatkan luhan. Doa seohyun dalam hati.

“Seohyun ssi sebaiknya kau ganti pakainmu dulu, aku yang akan menunggu luhan disini.”

“Tidak !! samapai aku mendengar luhan baik-baik saja.”

“Tapi keadaanmu sangat kacau seohyun ssi.”

“Aku tidak peduli.”

Jongin mengehela nafasnya pasrah. Percuma saja ia membujuk gadis keras kepala itu.
Memang setelah kejadian beberapa jam lalu saat di gereja luhan langsung dilarikan kerumah sakit yang berada di busan. Sementara mayat sehun dibawa kerumah duka untuk pemakamannya.

Suara pintu terbuka mengagetkan keduanya. Seorang namja paruh baya dengan setelan jas berwarna putih keluar dari ruang UGD.

“Bagaimana kondisinya dokter?” Seohyunlah yang pertama kali sadar akan terkejutannya.

TBC

Love The Devil #12 A


Title : Love The Devil
Author : Hyemi
Cast : Lu Han , Seohyun
Genre : Romance , sad

hai readers ^^ , mianhae kalau ff ini kelamaan posting *bow -_- dan buat yg nungguin ff bulukan ini sekali lagi mianhae ^^ ok happy reading ~

***
Luhan mengendarai mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rat. Baru saja ia mendengar kabar yang cukup membuat darahnya naik disaat ia sedang rapat dengan beberapa relasinya terpaksa harus dibatalkan. Huh ,, harusnya saat ini ia sedang berkonsentrasi untuk memenangkan sebuah proyek besar yang akan menguntungkan perusahaanya , tapi apa ia mendengar kabar dari jongin saat dirinya sedang rapat bahwa seohyun gadisnya benar-benar bertindak konyol.

“ya!! ,, kim jongin kau sudah menyuruh anak buahmu untuk memantau perkembangan disana huh ?.”

“Tentu saja dan kau tahu Luhan , Seohyun benar-benar menuruti kemauan bocah itu.”
“Oh shitt !! aku sudah menduganya ”

“yah kurasa kau harus bergerak cepat, oh dan kau tidak perlu khawatir dengan jihyun dan bibinya aku dan anak buahku sedang mengurusnya, kau pergilah ke busan bocah itu membawanya kesan.”

“Ya, dan akan aku pastikan bocah itu mati dengan tanganku.”

Luhan menutup teleponnya. ya, ia baru saja menghubungi sahabatnya.

Luhan semakin menambah kecepatannya tidak peduli hal itu akan membahayakan nyawanya. “Kalau sampai terjadi sesuatu dengan seohyunku kau harus mati oh sehun.” sepanjang perjalanan Luhan mengutuk dalam hati. “Dan kau seohyun benar-benar bodoh , oh shitt !!”

***
“Sehun dimana kau sembunyikan bibi dan jihyun?”

“Tenang sayang setelah acara pemberkatan kita, aku berjanji akan membawa bibi dan jihyun kemari.”

Ya, hari adalah acara pernikahan yang terpaksa dilakukan Seohyun. Tidak ada pesta yang megah. Pernikahan keduanya dilakukan dengan sederhana di gereja tua, hanya ada pastur dan satu orang saksi yang sama sekali tidak dikenalnya.

Sehun sebenarnya tidak yakin dengan ucapanya, ia baru saja mendengar dari anak buahnya bahwa ada orang sedang berusaha membawa jihyun dan bibinya. Ia harus bergerak cepat sebelum semuanya kacau. Ia sangat yakin Luhan pasti sedang menuju kesini. Ia sama sekali tidak memperdulikan jihyun dan bibinya yang terpenting sekarang ia harus menikah dengan seohyun sekarang dan setelah membawanya pergi jauh keluar negeri.

“Baiklah anak muda bisa kita mulai acara pemberkatanya sekarang ?.”

Ucap sang pastur membuyarkan lamunanya. Ia melirik kearah seohyun yang disampingnya, raut wajahnya menegang.

“Ya tentu saja pak pastur , aku tidak mungkin menundanya.” jawab sehun dengan seringai tipisnya.

Sang pastur mengagguk lalu melanjutkan acara pemberkatan itu.

“Oh sehun, bersediakah kau menjaga Seo joo hyun sebagai istrimu! mencintainya, menjaganya dan akan mendampinya sampai akhir hidup kalian..?”

“Ya aku bersedia.” jawab sehun mantap.

“Dan kau, Seo joo hyun bersediakah kau menerima Oh sehun sebagai suamimu, menghormatinya, menjaga, mencintainya dan mendampinginya sampai akhir hidup kalian?”

Seohyun terdiam ,tubuhnya bergetar hebat mulutnya terkatup rapat. Ia tidak tahu apakah dirinya harus menjawab ucapan sang pastur. Matanya mulai berkaca-kaca, hatinya terasa diremas kuat. Bukan seperti ini seharusnya. Ia sadar sehun meremas tanganya keras.

“Seo joo hyun jawab sekarang atau akan ku pastikan kau akan melihat mayat jihyun bibimu.” ucap sehun menggeram marah.
Seohyun menggelengkan kepalanya pelan. Tidak ini sama sekali tidak benar. Ia tidak mencintai sehun, ia tidak sanggup mengucapkan janji pernikahan dihadapan Tuhan.

Sang pastur berdehem. “Nona seo joo hyun bagaimana? ah baiklah aku akan mengulangnya.
Seo joo hyun bersediakah kau menerima Oh sehun sebagai sumimi, menghormatinya ,mencintai…”

Ucapan sang pastur terhenti ketika mendengar suara pintu yang di buka kasar serta teriakan seorang namja.

“HENTIKAN PERNIKAHAN INI.. ”

Seohyun dan sehun secara serentak membalikkan tubuhnya melihat siapa orang itu.

“Luhan..” gumam seohyun pelan.

Ya!! Itu suara teriakan luhan . Sepertinya Luhan datang tepat pada waktunya.

“Hentikan pernikahan ini oh sehun , kau tidak berhak melakukannya.” Luhan mengegeram marah.
Tatapannya berubah dingin saat melihat seohyun yang ketakutan.

Sehun masih berdiri disana , didepan sang pastur. Ia tertawa mengejek ke arah luhan .

“Wow,, harus ku akui kau sungguh cerdas Luhan ssi ,, ahahaha ya kau memang cerdas bisa menemukanku di waktu yg tepat…” Ucap sehun dengan santainya. ” Tapi harus ku akui kau bodoh Luhan ssi, dengan kedatangmu kesini itu tandanya kau menginginkan gadismu mati ditanganku.”

Dengan tiba-tiba sehun mengeluarkan pistol dari balik tuxedonya dan mengarahkan pistol itu tepat dikepala seohyun.

Tubuh seohyun bergetar takut. Air matanya terus menetes tanpa harus ia cegah. Tidak!! Sehun sahabatnya bukanlah orang jahat.

“Sehun ah kumohon jangan seperti ini.” gumam seohyun dengan suara bergetar.

“DIAM SEO JOO HYUN .. dan kau Luhan ssi tetap diam disitu, sekali lagi kau bergerak kesini maka akan aku pastikan peluru pistol ini akan bersarang dikepala seohyun.”

LOVE THE DEVIL #11


Author : Hyemi

“Title : Love the devil

Cast : Luhan, Seohyun, Sehun

Genre : Romance, sad

PG : 17+

***

Seohyun telah berada di taman, lebih tepatnya di dalam rumah kaca yang didalamnya terdapat berbagai macam tanaman yang dirawat sedemikian rupa hingga membentuk taman yang indah. Rumah kaca itu terletak di belakang paviliun milik sahabatnya. Seohyun berdiri didekat air mancur, tangannya yang satu memegang keranjang bunga yang masih kosong. Ia hanya menggenggam satu tangkai bunga mawar merah, niat awalnya ingin memetik beberapa tangkai bunga untuk koleksinya, ia malah terjebak disini dengan pikiran nya sendiri. Ia merenung memkirkan laki – laki itu . Ya siapa lagi kalau bukan Luhan , laki-laki yang ia benci sekaligus ia cintai.

Benarkah ia mencintai laki-laki itu? Pertanyaan itu terus berkeliaraan di dalam lamunanya.

Semenjak malam itu, saat dirinya bertengkar lagi dengan luhan. Ia tidak pernah melihat luhan di apartemenya. Yang ia tahu dari para pelayan luhan sedang pergi ke luar kota. Ada urusan bisnis katanya.

Aissh apa yang sedang kupikirkan. Kenapa aku harus memikirkan laki -laki itu.  Benarkah aku merindukannya?.

Seohyun meremas tangkai mawarnya. Ia sama sekali tak menyadari tangannya yang berdarah karena duri duri mawar.

“Seohyun apa yang sedang kau lakukan? Dan…oh demi Tuhan tanganmu berdarah. ”

Sehun sahabatnya tiba-tiba membuyarkan dari lamunannya. Sehun langsung menghampiri seohyun dan merebut tangkai mawarnya kemudian membuangnya.

“Oh..tidak sehun ah. Aku…aku hanya sedang memikirkan sesuatu.” Ucap Seohyun mencoba meyakinkan sahabatnya.

“Dan kau menyakiti dirimu sendiri Seohyun.” Sehun terlihat marah saat melihat luka di tangan seohyun yang dibuat sendiri. “Oh .. demi tuhan dan kau sama sekali tidak menyadarinya.”

“Ya maaf, dan tidak seharusnya aku membuatmu khawatir.”

“Tidak seohyun ah .. tentu saja aku sangat khawatir terhadapmu karena…” Sehun terlihat menggantungkan ucapanya dan melanjutkan dalam hati. “Karena kau terlalu berharga untuk ku seohyun ah”.

“Karena apa sehun ah?” Ucap seohyun menunggu sehun untuk melanjutkan kata-katanya.

“Ah tidak..lebih baik aku mengobati lukamu terlebih dahulu.” Sehun mencoba meyakinkan lalu menggiring seohyun untuk masuk kedalam rumah.

Seohyun mengernyitkan dahinya merasa aneh. Tapi ia tetap membiarkan dirinya dibawa masuk kedalam rumah.

***

Suara dering ponsel terus menggema di dalam ruangan yang saat ini ditempati seorang pemuda yang  sedang bermalas-malasan diatas tempat tidur.

Luhan terus memejamkan matanya   mencoba mengabaikan suara dering ponselnya. Tapi sialnya ponsel miliknnya terus saja mengganggunya. Dengan matanya yang masih terpejam. Ia mencoba mencari ponselnya yang terletak dimeja samping tempat tidurnya.

“Huh dimana ponsel sialan itu.” Ia terus menggerutu sampai akhirnya ia berhasil menemukannya. Namun sungguh ironis bukanya mengangkat panggilan ponselnya itu. Ia malah melemparnya entah kemana.

Luhan bangun dengan wajah kusutnya. Huh pagi yang buruk sepertinya. Tidak seperti biasanya luhan seperti ini. Biasanya ia bangun dengan senyumnya yang menawan. Huh Seohyun gadisnya berpengaruh buruk sepertinya.

***

“Seohyun ah bolehkah aku menanyakan sesuatu?.”  Sehun memandang tepat dimata seohyun dengan sendu.

“Ah tentu saja sehun ah.” Seohyun merasakan sesuatu dalam diri sahabatnya itu.  Ia merasa sehun sahabatnya sikapnya berbeda dari biasanya.

Dengan tanganya yang masih menggenggam tangan seohyun. Sehun mengusap lembut telapak tangan seohyun yang terluka. “Seohyun ah .. aku tidak tahu apakah aku pantas tahu apa tidak tapi … aku hanya ingin memastikan.” Untuk beberapa detik sehun menghembuskan nafasnya kasar dan menatap mata seohyun. “Apa kau mencintai laki laki itu?”.

Seohyun terhennyak, punggungnya menegang. Ia benar benar tidak menyangka sehun akan menanyakan hal ini. “Apa yang kau maksud Luhan.?”

“Ya Luhan.. kau menyukainya bukan?.”

“Aku… aku tidak tahu sehun ah.” Seohyun berucap pelan. Ia kembali berpikir.  Benarkah ia menyukai Luhan?. Tapi itu tidak mungkin.

kau tidak perlu berbohong padaku seohyun ah…aku tahu kau menyukainya bahkan mencintainya.”

Seohyun tiba-tiba melepaskan tanganya dari genggaman sehun. “Tidak .. itu tidak seperti yang kau fikirkan, aku.. ”

“Kau tidak menyadari perasaanmu sendiri seohyun ah..  aku yakin kau mencintainya, dan kau berubah seohyun ah.”

Seohyun menatap sehun sendu. “Ya mungkin kau benar.. sekarang aku berubah.”

“Tapi bolehkah aku memohon seohyyn ah aku… aku mohon tinggalkan luhan dan tinggalah bersamaku seohyun.”

“Kau..  tidak. .tidak mungkin.”

” Ya , kau benar aku…mencintaimu.”  Sehun menatap seohyun sendu. Ia sangat berharap pada seohyun.

Seohyun menghembuskan nafasnya lelah. ia tidak tahu harus berbuat apa. Sehun terlalu baik untuk bersamanya menurutnya.

“Maaf.. maafkan aku oh sehun. Aku.. aku tidak bisa.”

Tatapan sehun menjadi tajam, mengintimidasi seohyun dengan tatapan sinisnya. “Kenapa tidak bisa? Bisakah kau beri alasan Seo joo hyun?” Ucap sehun dengan menekan setiap katanya.

“Aku.. aku tidak tahu hanya saja.. aku tidak pantas untukmu sehun ah.”

“Tidak.. bukan alasan itu yang ingin ku dengar.. Kau tahu bukan kau tidak pandai berbohong didepanku dan.. . Aku tahu alasanya pasti karena Luhan.” Ucap sehun dengan frustasi. “Jawab aku Seo Joo Hyun.”

“Ya.. Karena Luhan.” Nafas seohyun memburu. Tangannya mengapal kuat. Ia tidak tahu harus apa lagi. Berbohong padanya pun tidak akan bisa. Karena ia tidak pernah bisa berbohong pada sahabatnya.

“Ciih .. Benar ya karena luhan, bodohnya diriku bertanya hal ini.. ah ya kau harus ingat satu hal seohyun, kau tahu bukan bagaimana sifatku heuh.. Aku tidak akan pernah menyerah untuk membuatmu menerimaku.”

“Apa maksudmu ?.” Tiba-tiba seohyun menjadi panik. Ia merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi.

“Ahaha.. kau tidak perlu panik seperti itu seohyun ah.” Sehun mengusap pelan pipi seohyun dengan punggung tangannya. “Aku bisa melakukan apa saja yang aku inginkan termasuk… harus menyakiti orang-orang yang kau sayangi seohyun ah. ”

Seohyun menepis tangan sehun kasar. ” Jangan macam-macam oh sehun.. katakan apa yang kau rencankan?”

“Kau mau tahu?.. huh apa kau tidak menyadarinya selama seminggu ini bibimu dan ponakan tersayangmu sama sekali belum mengabarimu.” Ucap sehun dengan smirknya yang khas.

Tiba-tiba seohyun teringat. Ya, Sehun benar bibinya dan jihyun sama sekali belum mengabarinya. Seo joo hyun kau benar-benar bodoh tidak menyadari hal ini.

“Kau.. apa yang kau lakukan pada mereka.. Demi Tuhan kau merencanakan ini dari awal Oh Sehun.”

“Kau benar sayang.. ah tentu saja kau tidak mau hal buruk terjadi pada mereka bukan? .. mudah saja kau cukup tinggalkan Luhan dan tinggal bersamaku atau..” Sehun sengaja menggantungkan ucapannya dan melirik Seohyun dengan sinis. “Sesuatu yang buruk akan terjadi pada mereka… aku akan memberimu waktu sampai malam ini dan aku berharap kau memikirkannya baik-baik seohyun sayang.”

Setelah mengatakan itu sehun langsung pergi dari paviliun dengan santainya.

Sementara Seohyun pikirannya kalut, ia tidak tahu harus berbuat apa lagi. Sekelebat ide gila tepikir olehnya. Meminta bantuan  pada Luhan? HUh itu sama saja menjatuhkan harga dirinya. Tunggu, harga diri? Ah Seohyun di saat seperti ini pun masih memikirkan harga dirinya.  Ingatlah Seo joo hyun , bibi dan jihyun satu-satunya anggota keluarga yang ia sayangi sekarang ini dalam bahaya. Huh tapi haruskah?. Yah, sepertinya tidak ada pilihan lain.

***

Terlihat seorang namja dengan tatapan marahnya keluar dari mobilnya. Rasanya ia siap meledak begitu saja untuk melampiaskan kemarahannya. Kakinya melangkah lebar menuju cafe yang saat ini ditujunya.

“Kim jongin apa-apaan ini?”

“Oh Luhan..  santailah sobat.”

Ya namja tadi adalah Luhan.

“Bagaimana aku bisa santai huh… pikiran ku sedang kalut dan kau tiba-tiba memberiku kabar yang buruk huh.”

“Ya begitulah…kau perlu ku pesankan sesuatu?”

“Tidak perlu,  sekarang cepat kau katakan.”

“Begini.. baru saja aku menerima informasi dari salah satu anak buahku kalau pemuda merencanakan sesuatu yang buruk pada gadis mu. ”

“Apa maksud mu?.”

“Kau tahu Lu, pemuda itu menyukai gadismu.”

“Ya aku tahu itu… dan itu rasanya membuatku ingin mencekiknya.”  Jawab luhan terlihat tidak sabaran.

“Ya ya ya aku tahu.. Oh sehun baru saja merencanakan hal gila.. dia akan merebut seohyun darimu dengan cara melukai bibinya dan ponakanya.”

“MWO…?

TBC

hai reader akhirnya bisa meluangkan buat lanjutin nih ff, ya  mungkin makin kesini ffnya semakin ancur(?) -_- ok author seneng ko baca komenan kalian dan author minta maaf gk bisa bales komenan kalian ^^ , ok see you next time and RCL please ^^

Love The Devil#10


Lu ltd 1
Tittle : Love The Devil
Cast : Seohyun , Luhan
Genre : Sad , Romance
PG : 17+
Hai ^^ mian baru bisa dilanjut , berhubung saya semakin sibuk saya sempetin buat lanjut lagi ^^, Don’t copas and don’t forget RCL.
happy reading ^,^

***
Seohyun terbangun dengan selimut yang melilit ditubuh polosnya, ia melirik kesamping dimana seorang pria yang keadaan tubuhnya sama dengan dirinya sedang tertidur pulas. Seohyun termenung mengingat kejadian semalam, apa yang telah terjadi semalam merupakan hal yang tak pernah ia pikirkan, bisa terjebak dalam pesona pria itu merupakan hal yang mustahil .Tapi sepertinya ia melupakan satu hal tentang semalam, benarkah ia dengan lancarnya mengatakan bahwa dirinya mencintai pria itu? Seohyun mengenyahkan pikiranya yang terus mengingat kejadian semalam
“mungkin mandi bisa sedikit menyegarkan kembali pikiranya”
gumam Seohyun lalu berjalan kearah kamar mandi.

***

Luhan mendengar suara kucuran air shower dari kamar mandi, ia terbangun dengan senyumnya yang manis tak pernah lepas dari semalam, sungguh ini seperti mimpi , kejadian semalam membuatnya benar-benar yakin bahwa seohyun sudah bisa menerimanya.
Tak lama kemudian ia mendengar suara pintu terbuka dari kamar mandi, Luhan torehkan kepalanya lalu tersenyum melihat seohyun keluar dari kamar mandi.

“Pagi sayang” Sapanya dengan senyum manis yang mengembang di bibir tipisnya.

Sementara Seohyun hanya melirik tanpa minat untuk menjawabnya,dengan wajah datarnya Seohyun berjalan melewati Luhan ke meja rias yang tak jauh dari ranjangnya.

“Apa yang terjadi pada kita sekarang?” Tanya Luhan melompat dari ranjang lalu berjalan mendekat.

“Tidak terjadi apa-apa diantara kita Lu” Sahut Seohyun datar.

“Setelah apa yang kita lakukan semalam?”Luhan mengeluarkan geraman mengejek lalu membalikkan tubuh Seohyun.”Demi Tuhan Seohyun,omong kosong apa lagi yang kau bicarakan”.

Betapa bodohnya Seohyun malah menatap mata Luhan yang kelam karena amarahnya.
Seohyun berjuang untuk membangun kembali pertahanan dirinya yang hancur, untuk tetap bersikap angkuh seperti sebelumnya. Suatu hal yang sulit dilakukanya hanya karena menatap mata pria itu dengan jarak sedekat ini.

“Semua itu tidak akan mengubah apa pun” Kata Seohyun tajam.

Sungguh Seohyun tidakalah pandai untuk berbohong didepan Luhan. Luhan telah mengubahnya.
Seohyun yang angkuh, penuh harga diri, dingin , sudah tidak ada lagi.Pribadi yang dingin seperti bongkahan es telah hancur dalam semalam.
Seohyun tidak ingin membicarakan yang baru saja terjadi diantara mereka.Seohyun takut jika Luhan merenungkan dengan hati senang bahwa ia telah mencapai tujuan untuk menaklukan dirinya.Kesenangan Luhan akan membuat ketakutan jiwa Seohyun rapuh.

“Apakah ini ilusi? Katakan seohyun?

“Anggap saja begitu.”

“Tidak, kau tidak pandai berbohong Seohyun”

“Aku tidak berbohong Luhan.”

“Kau bohong, dengan jelas semalam kau mengatakanya” Luhan meremas bahu seohyun dan terus menatapnya tajam.

Seohyun tidak bisa menunjukkan sisi rapuhnya.

“Seohyun,,,”
“Maaf, aku tidak bisa”
Luhan mengendus lelah, matanya menatap seohyun sedih , begitu sulitnya untuk seohyun mengakui perasaanya.

“Luhan,mungkin aku akan kembali kerumahku untuk sementara” Seohyun menundu, ia tidak berani menatap Luhan.

Luhan menggeram lalu melepaskan cengkramanya “Ya,tapi hanya tiga hari setelah itu aku akan menjemputmu lagi”

Seohyun mendongak, melihat Luhan tersenyum sinis.

“Setidaknya kau harus ingat satu hal Seohyun.,,” Luhan menjeda ucapanya lalu menunduk. “Kau masih pelacurku sayang.” bisik Luhan lalu tersenyum sinis.

Seohyun mengepalkan tanganya, marah? tentu ia marah. Tidak seharusnya Luha bersikap seperti itu. Entah kenapa hatinya seperti tersayat belati saat Luhan mengatakan dirinya dengan sebutan pelacur. Hei bukankah ia memang pelacurnya?
“Tentu tuan Luhan, aku masih ingat akan hal itu.” Seohyun menggeram.

Luhan melihatnya sinis, hatinya tertawa senang, ia sengaja melakukanya untuk melihat ekspresi Seohyun.
“bagus, aku senang kau masih mengingatnya sayang.”

“Ya, dan sebaiknya aku bersiap-siap.”

“Dan satu hal lagi,,,aku melarangmu untuk dekat dengan pemuda itu.”

“Siapa yang kau maksud?” seohyun semakin marah, ia tidak tahan dengan sikap luhan.

“oh sehun.” Ucap Luhan dengan tajam.

“Kau tidak berhak melarangku,,”

“Tentu saja aku berhak.” Ucap luhan memotong pembicaraan Seohyun.
“Kau masih terikat denganku, dan aku melarangmu dekat dengan laki-laki selain aku.”

“Kau benar-benar iblis.”

“Ya, aku tahu itu.” kata luhan acuh lalu berjalan keluar dari kamarnya.

Seohyun semakin bergerak gelisah, ia tidak bisa memahami laki-laki itu, dan ia harus berhati-hati.

TBC

Love The Devil #8


Author : Hyemi
Cast : Seohyun, Luhan
Genre : Romance, Sad

Don’t forget RCL ne ^^ happy reading

***
Sehari setelah kejadian dimana mereka berciuman di bawah hujan yang mengguyur mereka di pinggiran sungai han. Seohyun tidak tahu harus berbuat apa, Ia sama sekali belum menjawab pertanyaan Luhan. Menikah dengannya?oh ini sungguh gila. Ia tidak ingin terikat dengan laki-laki itu, apa lagi menikah dengannya. Tapi lagi-lagi hatinya seakan tidak bisa menolak. Sial, ia benci situasi seperti ini. Seohyun menyesap anggurnya dengan perlahan. Ciuman yang tajam itu telah membelah jiwa Seohyun. Ia nyaris tak mampu mengingatnya. Sudah lebih dari satu jam ia berdiri di balkon kamarnya, ralat lebih tepatnya kamar milik Luhan yang di tempatinya dimalam hari dan menikmati pemandangan malam yang tersuguh di depannya mungkin itu bisa menormalkan kembali pikirannya, Namun kegiatan itu harus terhenti saat sepasang lengan kekar memeluk pinggangnnya dari belakang.

Luhan menompangkan dagunya di atas punggung Seohyun dan menempelkan pipinya ke pipi Seohyun. “Kau sedang apa eumm.?” Katanya lalu mengecup pelan pipi mulus milik Seohyun.

“Mewaraskan pikiranku tentunya.” ucap Seohyun pelan dan kembali menyesap anggurnya.“Katakan padaku, kenapa kau ingin menikahiku?”tanyanya dan tetap memandang lurus ke depan.

“Tentu saja karena kau berharga untukku.” kata Luhan tegas.

Tanpa sepengetahuan Luhan, Seohyun tersenyum sinis di delam pelukan Luhan “Begitukah? Kau tidak bodoh kan?”. Seohyun melepaskan pelukan Luhan dan membalikkan tubuhnya menghadap Luhan lalu meletakkan gelasnya di meja yang ada disampingnya.

“Apa maksudmu?” ucap Luhan memandang Seohyun tajam.

Seohyun menghela napasnya.“Tidak seharusnya kau menggapku berharga, aku bahkan berniat ingin menghancurkanmu Lu”. Seohyun menatap sendu Luhan, tanganya terulur lalu mengusap pipi Luhan pelan.

“Kau tetap berharga untukku ,
aku mencintaimu Seohyun sungguh.” ucap Luhan pelan bagaikan bisikan, ia lelah untuk meyakinkan Seohyun. Tanganya memegang tangan Seohyun yang mengusap pipinya.

Seohyun tercekat saat memandang tepat di iris mata berwarna hitam kecokelatan milik Luhan. Entah mengapa hatinya merasa sakit saat melihat raut keputus asaan Luhan.“Luhan,, cium aku” bisik Seohyun pelan. Ia berjinjit pelab lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Luhan. Seohyun menempelkan bibirnya di bibir tipis milik Luhan.

Luhan memejamkan matanya menikmati ciuman Seohyun.“kau membuatku gila.” ucap Luhan disela-sela ciumannya.Tanganya terulur dan menekan tengkuk Seohyun untuk memperdalam ciumannya.

“Jadilah gila.” bisik Seohyun, nyaris tidak tahu apa yang ia katakan.
Ya tuhan, tidak ada yang salah dengan dirinya bukan. Ia mendambakan Luhan, untuk malam ini biarkan dirinya mengikuti hasrat mendalam yang bergejolak di dalam perutnya.

Luhan semakin memperdalam ciumannya, ia mengambil alih dan memimpin ciumannya yang penuh hasrat, rakus dan menggelora. Ciuman Luhan tidaklah lembut. Ciuman ini berbeda dari ciuman yang lembut dan menggoda di bawah hujan kemarin. Dan Seohyun menciumnya sama buasnya dengan dirinya. Luhan memasukkan tangannya yang gemetar ke dalam gaun tidur Seohyun untuk menangkup payudara milik Seohyun. Puncak payudaranya mengeras dalam telapak tangan Luhan.

Seohyun, tubuhnya bergetar karena gairah. Ia mendesah di sela-sela ciumanya saat Luhan meremas pelan payudaranya. ia membuka matanya saat ciumannya terlepas, matanya yang berkabut memandang Luhan yang menatapnya seakan lapar.

“Jangan berhenti.” bisik Seohyun.

“Tidak akan” ucap Luhan lalu menggendong Seohyun dan kembali meraup bibir Seohyun. Ia berjalan ke ranjangnya, sementara Seohyun mengalungkan tangannya keleher Luhan.
Luhan membaringkan tubuh seohyun pelan tanpa melepas tautannya. Luhan menekan keras tubuhnya diatas tubuh Seohyun ke ranjangnya, membuat Seohyun merasakan berat dari ukuran tubuh Luhan. Hanya lapis gaun tidur sutra tipis yang memisahkan mereka.

Tangan Seohyun menyusuri punggung Luhan, membuat jubah tidur yang di kenakan Luhan berkerut-kerut di bawah jari-jarinya. Nalurinya yang menginginkan kegiatan intim ini. Seohyun memainkan mulutnya, mengecap rasa pria ini. Luhan di buat melayang karena Seohyun.
Luhan kembali memasukan tangannya kedalam gaun tidur Seohyun, dengan lembut ia kembali memainkan tangannya pada payudara milik Seohyun.
Seohyun merintih dalam ciuman mereka, tubuhnya melengkung untuk menambah tekanan pada payudaranya. Seohyun menggigit bibir Luhan, melumatnya dengan penuh gairah.

Dengan napas yang tersenggal-senggal Luhan melepaskan tautan mereka lalu menekan hidung dan pipinya ke pipi , rahang dan leher Seohyun. Pening karena hawa panas yang menjalar di tubuhnya , Seohyun membuka matanya.“Luhan,,.” Dengan terus menyebut nama Luhan, Seohyun terus merintih di bawah kekangan Luhan.
Luhan melepaskan tautan bibirnya di leher Seohyun, lalu menatap dalam Seohyun. Untuk sesaat rasa tidak rela ia rasakan ketika ia berjuang untuk melepaskan tautan bibirnya. Nalurinya ingin terus mencium Seohyun.

TBC

Love The Devil #7


Author : Hyemi
Cast : Seohyun, Luhan
Genre : Romance, Sad
Disclaimer : seperti biasa don’t forget RCL ya 🙂

***
Luhan menatapnya sendu. Seharusnya ia marah karena tujuan Seohyun yang mencoba membalaskan dendam kaka perempuannya. Tapi apa yang di lakukannya , ia malah ingin menahan Seohyun lebih lama bahkan mungkin selamanya. Hatinya seolah menolak kepergian gadisnya.“Aku tahu tujuanmu sejak awal adalah untuk membalaskan dendam kaka perempuanmu dan seharusnya aku marah padamu, tapi…” Luhan menggantungkan ucapannya dan merengkuh tangan Seohyun dengan jepitan yang erat.“Tapi entah mengapa aku tak bisa melakukannya dan kurasa aku mulai menyukaimu, jadi biarlah aku yang akan menebus semua kesalahan ayahku yang telah perbuat kepadamu , kita akan merawat jihyun bersama-sama”

Seohyun menatap Luhan yang menatapnya sendu.“Jangan , aku sama sekali tidak berharga dan kau seharusnya tidak menyukaiku“

“Tentu saja kau berharga, dan kau pantas untuk ku cintai” Luhan berkata dengan nada keras dan kemarahan yang tiba-tiba. Tangannya beralih menangkup wajah Seohyun untuk menatapnya.“Seohyun aku bersungguh-sungguh, Kau bisa melakukan apa saja kepadaku, Jika kau mau tinggal dan aku tidak peduli dengan apa tujuanmu mau menjadi kekasihku sejak awal”

“Mengapa memilikiku sebagai kekasih begitu penting bagimu?”ucap Seohyun tegas.

Luhan menjawab dengan kejujuran yang sempurna namun membingungkan.“Aku tidak tahu.”

Mata Seohyun terlihat seperti batu permata yang basah yang dilingkari bulu matanya yang juga basah. Wajahnya putih pucat karena dingin dan tegang.“Apa yang kau inginkan sebenarnya, Luhan?”

Hujan mereda seiring dengan perdebatan mereka. Terganti dengan suara rintik hujan yang lembut. Luhan hanya bisa mengucapkan kata-kata yang sudah terukir di dalam jiwanya.“Aku menginginkanmu.”suaranya pecah dengan nada putus asa.

“Tidak, kau tak bisa.” Seohyun menjangkau tangan Luhan yang menangkup wajahnya dan melepaskannya. Tangannya kini terulur berganti menyentuh pipi Luhan. Ia mengusap pelan pip Luhan. Kelembutan yang dilakukan Seohyun saat ini berhasil mencabik-cabik hati Luhan. Sentuhan sederhana itu masih membuat tenggorokanya tercekat.

Dengan menutup mata, Luhan membiarkan kehangatan Seohyun meresap ke dalam tulangnya.Seohyun mengatakan ia tidak menginginkan Luhan, namun sentuhannya mengisyaratkan sebaiknya. Luhan membuka matanya dan tanganya mencengkram tangan Seohyun yang menyentuh pipinya. “Seohyun,” bisiknya. Luhan melihat kewaspadaan menyusup ke dalam mata cokelat yang jernih itu, Seohyun gemetaran di tanganya.
Karena dingin? Karena takut? Luhan tidak tahu. Namun Seohyun tidak mundur saat ia mencondongkan badan ke depan.
“Tidak,Luhan” bisik Seohyun. Napas Seohyun menyapu bibir Luhan, menghangatkan bibir yang dingin itu.

“Ya,” ucap Luhan lembut, Ia menyentuh rahang Seohyun dengan tangannya yang bebas dan dengan lembut mengangkat dagu Seohyun kearahnya. Wajah Luhan semakin mendekat hingga tidak ada sisa seincipun kearah Seohyun yang mulai memejamkan matanya.

Seohyun mengeluarkan keluhan saat bibir Luhan menyentuh bibirnya. Untuk sesaat ia menempel pada Seohyun, merasakan dinginnya kulit Seohyun. Lalu Luhan menarik diri sedikit, supaya ciuman ini tetap menghantui Seohyun sekalipun berakhir.

Di bawah air hujan mereka melakukannya. Seohyun membuka sedikit bibirnya dan menarik napas yang bergetar. Luhan menunggu Seohyun berbalik menciumnya. Namun Seohyun tetap diam. Luhan harus berhenti agar ciuman ini lebih berarti dari apapun yang pernah ia berikan seperti malam pertamanya dengan Seohyun, saat pergumulan itu terjadi.
Luhan kembali menunduk ke depan dan kembali menyentuhkan bibirnya ke bibir tipis milik Seohyun. Dan sebelum Seohyun bisa memprotes, ia semakin membungkam dan memperdalam ciumannya. Bibir itu lembut dan halus seperti satin yang lembab.
Ciuman sekarang ini lebih penting daripada hidup dan matinya.

Dengan lembut, Luhan memainkan mulutnya. Seohyun mengeluarkan suara gumaman kecil di dalam tenggorokannya dan untuk sesaat bibirnya terbuka. Napas Seohyun menyentuh lidah Luhan dan nyaris tanpa di sadari bibirnya sudah bergerak ke ar bibir Seohyun.
Luhan mendesah, dan menikmati ciuman Seohyun cukup lama. Reaksi Seohyun yang sedikit sekali dan ragu-ragu telah membuat pusing karena rangsangan.
Luhan tidak mampu untuk menahan dirinya untuk menambah tekanan bibirnya. Dengan cepat, bibir Seohyun melembut, terbuka, dan menyambut bibirnya.

Mendadak Seohyun menjadi kaku dalam genggaman Luhan lalu menjauh. Seohyun membuka matanya yang berkabut akan gairah. Tanganya mencengkram kuat dress yang di kenakanya sebagai pelampiasan akan perasanya yang tidak menentu. Luhan berhasil membuatnya linglung dan kinerja otaknya. Ia tidak tahu harus berbuat apa karena jiwa dan raganya menolak satu sama lain.

Luhan hendak menciumnya lagi tapi ia urungkan dan sebagai gantinya ia mencium kedua kelopak mata Seohyun, lalu berakhir di pelipis milik Seohyun sambil bergumam.“Aku mencintaimu sayang, menikahlah denganku Seo joo hyun”

TBC

Love The Devil #6


Author : Hyemi
Cast : Seohyun, Luhan
Genre : Romance, sad
Disclaimer : Seperti biasa RCL ne 🙂

***
Mobil yang di tumpangi Luhan dan Seohyun sampai di sungai han. Saat itu di sungai han memang sedang hujan lebat. Luhan dan Seohyun sama-sama terdiam , tak ada niatan untuk memecahkan keheningan yang tercipta di dalam mobil itu.
Luhan menghela napasnya kasar “Siapa anak itu?” tanpa basa-basi Luhan menanyakannya dengan perasaan aneh yang saat ini di rasakanya.
Seohyun tersentak , ia tak menyangka Luhan akan menyakan hal itu. Bibirnya bergerak ragu untuk menjawab pertanyaan Luhan, yang ia lakukan hanya terdiam dan bergerak gelisah.
Luhan melirik dari ekor matanya, “Seo joo hyun katakan padaku siapa anak itu?” katanya terlihat tidak sabaran.

“Tujuh tahun yang lalu..” Seohyun menjeda kalimatnya lalu melirik ke arah Luhan, menunggu apa reaksi Luhan tapi yang ia lihat Luhan hanya terdiam dengan wajah datarnya.“Perusahaan milik keluargaku mengalami kebangkrutan dan keluargaku menjadi kesulitan ekonomi , dan seseorang yang aku banggakan yaitu ayahku menjual kaka perempuanku dan aku ke salah satu seorang bangsawan dari cina, bangsawan itu Lu haoxi ..” Seohyun menahan hafasnya saat menyebutkan nama orang itu. Sementara Luhan tersentak , tubuhnya tiba-tiba bergetar karena shock saat mendengar nama ayahnya di sebutkan oleh gadis itu. Itu tidak mungkin, apa gadis ini sudah merencanaknaya sejak awal?batinya bertanya-tanya.
“Tadinya orang itu akan menjadikan ku dan kaka perempuanku sebagai salah satu pelacur yang di koleksinya, tapi aku berhasil kabur tapi tidak dengan kaka perempuanku , ia harus kembali tertangkap dengan salah satu anak buah orang itu , tadinya aku ingin menyelamatkan kaka perempuanku tapi ia melarangku dan membiarkanku pergi..”

“Tunggu apa orang yang kau maksud itu ayahku?”

“jangan memotong pembicaraanku Lu dan biarkan aku menyelesaikanya terlebih dulu” Seohyun kembali menghembuskan nafasnya “setahun stelah ke jdian itu aku tidak tahu bagaimana kabar kaka perempuanku sampai akhirnya aku menemukan kaka perempuanku tergeletak di pinggir jalan saat aku hendak pergi kepasar, aku langsung membawanya ke rumah sakit terdekat dan yang membuatku shock saat dokter bilang bahwa kaka perempuanku sedang mengandung dan umur kandunganya hampir menginjak tujuh bulan, sementara kaka ku ternyata mengalami depresi dan mengalami pendarahan hebat sehingga kami terpaksa membuat bayi itu terlahir premature dan akhirnya kaka perempuanku menghembuskannafas terakhirnya..” Seohyun kembali terdiam “Singkat ceritanya anak itu , Seo jihyun adalah adik kandungmu Lu”

Luhan terdiam membisu, ia mencoba mencerna semua ucapan Seohyun. Selama ini ia tak pernah tahu tentang apa yang di lakukan ayahnya karena ia tak pernah akur dengan ayahnya hingga sampai beliau meninggal.

“Kau tahu Lu pada saat kaka perempuanku meninggal, pikiranku langsung tertuju ke ayah mu karena aku yakin ayah mu lah yang melakukan semuanya dan aku terpaksa bekerja menjadi seorang pelacur karena hanya ingin membalaskan kematian kaka ku”

“Aku tahu apa yang kau rasakan saat itu, berapa umurmu saat itu?” Luhan mengtakanya dengan tenang.

“lima belas tahun dan kaka ku tujuh belas tahun..” perkataan Seohyun terhenti saat mendengar suar pintu mobil yang dibuka.“Apa yang kau lakukan Lu , di luar sedang hujan lebat”

“Kajja kita keluar , aku ingin mengatakan sesuatu” Luhan tidak memperdulikan reaksi Seohyun.

“Kau gila , kita bisa sakit kau tahu”

“ooh ayolah , apa susahnya keluar dari mobil”

Seohyun dengan terpaksa menuruti kemauan Luhan.

“Seperti itu lebih baik, kajja sayang”

Seohyun mendengus kasar dan mengikuti langkah Luhan yang menuntunnya ke arah pinggiran sungai han.

“Kau sudah tidak waras”

“Ya , kau benar, kemarilah ”katanya tegas.

Luhan menuntut Seohyun agar berhadapan dengannya. Ia menyampirkan rambut Seohyun yang menutupi mata Seohyun ke belakang telinganya. Seohyun menggigil. Wajahnya pucat pasi. Seharusnya Luhan mencambuk dirinya sendiri karena membuat Seohyun berdiri di bawah hujan lebat seperti ini. Namun dengan keras kepalanya ia malah menahan Seohyun untuk tetap disini tanpa niatan untuk membawa Seohyun kembali masuk ke mobilnya.

“Cepat katakan Lu , kau ingin membuat ku mati kedinginan huh”

“Ssst , kau tidak akan mati kedinginan sayang, tenang saja”

Seohyun menyeka wajahnya, namun sia-sia. Air hujan masih saja tercurah. Rambutnya yang di gerai menempel disisi wajahnya. Seohyun menatap Luhan dengan pandangan tanpa kompromi “Katakan saja apa yang mau kau katakan lalu biarkan aku kembali ke tempat kering”

Luhan bergerak lebih mendekat ke arah Seohyun untuk membawanya ke perlindungan tubuhnya. Luhan menangkap keharuman tubuh Seohyun yang lembut. Luhan menatap tajam Seohyun. Emosi yang liar dan membuat mual, mengguncangnya. “Apakah kau aku pergi?” tanyanya terang-terangan.

Wajah Seohyun mengerut oleh rasa cemas “Tentu , semuanya sudah berakhir..”

“Tidak, semuanya belum berakhir sayang”.

TBC